Komunitas Malaikat
Selasa, 09 Februari 2010

SAYA INGIN MENGATAKAN APA ADANYA…


Oleh : Ahmad Faisal Imron

Satu-satunya yang wajib dalam hidup
dan seni adalah menyatakan kebenaran
- Leo Tolstoy


...saya hanya mencoba mengutak-atik, mencoba berilusi, mencoba membuat definisi sendiri, membuat jalur sendiri, membuat keyakinan sendiri, tapi akhirnya, toh saya terlahir juga di lingkungan yang penuh dengan kebencian, keserakahan, keambiguan, ketidaknyamanan bersosial dan lain-lain. Saya beranggapan, apakah ini dunia saya? Apakah ini hanya sebuah mimpi?. Saya kira Kong Hu-Cu, sebagai seorang yang pernah hidup pada masa kesuburan intelektual di Cina, punya semacam ajaran yang hampir sama dengan Golden Rule-nya Nasrani “Apa yang kamu tidak suka dengan orang lain berbuat terhadap dirimu, jangan lakukan”. Salah satu pokok ajaran Budha yang sering disebut sebagai “Empat Kebajikan-Kebenaran” itu ternyata selalu menanamkan tentang segala yang benar: berbuat benar, bekerja benar, berdagang secara, berpikir benar dan lain-lain. Dan Islam, tentu punya penjabaran tersendiri yang cukup detail tentang arti kebenaran sekaligus bagaimana mengoreksi kejelekan, keburukan, kedengkian, kebencian. Apakah esensi dari semua itu berbeda?

Pada mulanya, tentu tidak bernama kebencian atau apapun namanya tetapi berangkat dari perbedaan-perbedaan, keangkuhan atau egoisme yang mendalam serta adanya semacam perubahan meski bersifat temporer. Jika pada hari ini, saya di lingkungan saya sendiri secara paksa dihadapkan pada pluralitas ide, ketidakseimbangan hidup dan kuatnya dorongan perubahan dalam berbagai hal. Dan apakah karena (paling tidak) dengan tiga hal di atas saya mesti berada dalam kebencian-kebencian itu? Apakah dosa ketika saya berbeda? Apakah dosa ketika saya ingin merubah? Saya sangat tertarik dengan Gandhi yang telah merubah kondisi negaranya meskipun dengan sikap yang sederhana “saya akan merendahkan diri sampai nol”.

Sangat memang, bahwa kebencian atau kedengkian adalah bapaknya revolusi dan kejahatan di samping kesengsaraan, tapi mari kita pelihara perbedaan-perbedaan yang dianggap sebagai cikal bakal “kebencian” itu dengan cara yang akan membawa kita pada perubahan yang sangat mengasyikan dan menjanjikan bukan menjadi sepasang tebing yang memendam kegelapan. Meski kita tak juga menganut Renaisans, tapi sedikit demi sedikit faham-fahamnya telah merasuki kita dan mengantarkan kita pada realitas-realitas baru. Kita pun hidup dalam dunia yang serba modern, yang sama sekali tidak pernah menjajikan suatu kemapanan, berpikir atau pun berbudaya. Maka dari itu, berubahlah!.

Ada kode-kode budaya, ada filsafat, ada faham liberal dan sebagainya, ketika kita harus mencari tahu jejak-jejak “perubahan” yang terjadi sepanjang sejarah manusia di bumi yang terus berputar ini. Bahkan perilaku manusia secara eksklusif diciptakan oleh faktor-faktor lingkungan, yakni oleh masyarakat dan budaya, bukannya oleh faktor-faktor pembawaan dan keturunan. Shih Huang Ti, ia adalah seorang perombak Cina dengan kekuatan militer dan senjata, meski pada hakikatnya ia adalah si penjaga tradisi Cina. Asoka, tentunya sebagai seorang arsitek perubahan India. Alexander Yang Agung, bagaimana ia begitu sampai menguasai kawasan Persia. Napoleon Bonaparte, Ayatulloh Humaeni yang juga kita sebut sebagai otak revolusi di Perancis dan Iran. Dan nama-nama lain yang tentunya tidak bisa kita lupakan begitu saja: Sayyidina Umar, Karl Marx, Jengis Khan, Al-Fa’rabi, Lenin, Adolf Hitler, Al-Ghazali, Mao Tse Tung, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln atau setelah itu, Einstein, Jaques Derrida, Immanuel Kant, Freud, Pablo Picasso, Joseph Beuys dan lain-lain.

Di beberapa nama, kita secara persis tahu, pergerakan dan perubahan yang mereka sodorkan sangat beragam dan sangat berpengaruh. Ada si penakluk bangsa-bangsa lain, ada yang dianggap sebagai bapak demokrasi, ada yang mempertahankan kejujuran di panggung politik dan pemerintahan, ada cara berpikir sekuler, ada penentang ketidakadilan, ada penemu, ada kekejaman, ada pembaharu Islam, kedokteran, kejiwaan, filsafat dan seni. Sadar atau tidak sadar mereka telah membuat perubahan yang sangat luar biasa secara estafet bagi generasi berikutnya. Meski sejak dulu, Islam pun yang oleh Nabi Saleh, Nabi Syu’aib, Rasululloh SAW, para imam dan sebagainya telah memperjuangkan kesetaraan sosial, melawan perbudakan, menentang ketidakadilan, termasuk melawan kemapanan dan tradisi-tradisi yang dipakai saat itu, dengan standar kitab-kitab Sucinya, sebagai paradigma tertinggi.

Dengan tidak melupakan, bahwa kita masih menyimpan kesengsaraan cinta, kesengsaraan hukum dan kesengsaraan moral. Tapi kesengsaraan ide, kesengsaran kebebasan, kesengsaran berpendapat, kesengsaraan berpikir rasional, kiranya, di sini, di tanah kelahiran saya ini, tidak boleh terhapus, walau rasionalitas kini cenderung dilihat tidak lagi bersipat mutlak dan universal. Ada sebuah pernyataan Heidegger, seorang filsuf kontemporer, yang sangat menarik, bahwa peradaban kontemporer Barat telah diwarnai kecenderungan untuk membentuk suatu idiom yang unik, total-tertutup. Demokrasi yang tidak ala Amerika atau negara-negara maju lainnya. Revolusi tak seperti revolusi di Uni Soviet dulu atau Perancis. Di sini, kita sedang membangun diri sendiri, dengan cara sendiri, paling tidak dengan kekuatan persatuan-kesatuan-persaudaraan, hukum, dan moralitas agama. Tapi ironisnya menjalani kehidupan terlebih-lebih di sini seringkali bertabrakan dengan norma-norma, warisan hukum, serta warisan budaya yang justru menjadi satu-satunya kekayaan kita. Kita harus membuat idiom tersendiri. Kita harus unik.

Jika harus melihat ke belakang bagaimana sebuah komunitas, kelompok masyarakat, sebuah pesantren, sebuah kerajaan atau sebuah negara menjadi berkembang dan maju, seperti apa “konflik politik”nya yang terjadi, sistem serta struktur dan infra-strukturnya seperti apa atau demokrasi seperti apa yang telah dijalaninya?. Tentunya, ini bukan persoalan kecil. Hanya saja ada beberapa catatan sejarah yang saya kira bisa membatu terutama yang mengarah pada persoalan saya dan lingkungan saya ini, sebagai efek dari berjalannya rasa persaudaraan, rasa ingin maju, atau berdemokrasi secara mini. Diakui atau tidak. Diterima atau tidak.

Di Islam, pertama kali muncul gerakan politik yaitu pada masa akhir pemerintahan Sayyidina Utsman Bin Affan. Gerakan pembangkangan politik pun muncul dengan tujuan mengkudeta Sang Khalifah dengan nama atau istilah “Tragedi Syab’iyyin” yang menimbulkan ke-chaos-an di kalangan muslim saat itu. Secara umum agama (juga Islam) mencakup urusan politik bahkan politik menjadi bagian dari Islam dan dianggap sebagai salah satu cara untuk memandang Islam. Di Lebanon, Libia, Syria, Yaman Selatan dan di tempat-tempat lain, beberapa elemen politik juga telah menggunakan agama dalam perjuangan ideologinya melawan imperialisme dan kelas-kelas kapitalis-feodalis. Hal yang sangat mirip juga terjadi di negara-negara Amerika Latin, di mana ada sebuah kecenderungan di kalangan rohaniawan untuk melengkapi perjuangan dengan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi kristen awal. Tetapi “perubahan” dan orang-orang yang menginginkan “perubahan” itu adalah salah satu bagian terpenting dari sebuah proses. Catat itu!.

Ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya, adalah beberapa unsur yang sangat menentukan dan memproduksi segala aspek kehidupan ini. Cara memproduksi kehidupan yang bersipat materi menentukan kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, melainkan keadaan sosiallah yang menentukan kesadarannya. Saya ambil salah satu contoh adanya perubahan dan pembaharuan di Islam yaitu ketika Mesir, yang dianggap sebagai salah satu pusat terpenting jatuh ke tangan Barat. Kekuatan militer dan politik umat Islam menurun, kemudian ditambah dengan arus globalisasi, modernisme bahkan pemikiran postmodernisme merajalela di kalangan umat Islam itu sendiri. Modernisme yang di dalamnya ada ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar kebenaran tertinggi, akibatnya nilai-nilai moral dan agama kehilangan wibawa. Apakah ini karena kita tak paham tentang hal itu?.

Yang kalau tidak salah tafsir: makin modern suatu zaman, maka makin menimbulkan perpecahan. Saya ulangi, makin modern suatu zaman, maka makin menimbulkan perpecahan. Bagaimana mungkin sebuah perubahan terjadi tanpa perbedaan-perbedaan? Lalu bagaimana dari perbedaan-perbedaan itu kita bisa mengambil kesepakatan yang cemerlang? Jika kita kaji ulang, kebangkitan agama dan demokrasi merupakan dua fenomena paling penting dalam dasawarsa terakhir di abad kedua puluh. Gerakan-gerakan kebangkitan agama berjalan seiring dan terkadang memperkuat pembentukan sistem politik yang lebih demokratis. antara menyesuaikan diri atau melakukan perlawanan. Sekali lagi, bahwa Karl Marx termasuk Lenin dan Mao Tse Tung yang juga pengikutnya atau pembaru-pembaru Islam, pembaru-pembaru Kristen, pembaru di politik, sains, filsafat, seni atau yang lainnya, mereka benar-benar telah membuat sesuatu bagi generasi manusia berikutnya. Terlepas dari benar atau tidak benar, tetapi arti penting seorang filosof, seorang pemikir, seorang pembaharu terletak bukan pada kebenaran pendapatnya tapi terletak pada masalah apakah buah pikirannya telah menggerakan orang untuk bertindak atau tidak.


Tulisan ini diambil dari berbagai sumber.
Tulisan ini didasari atas dasar kegelisahan.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut